Anjir

Orang itu membicarakan pengalamannya yang luar biasa. Tidak mengagumkan sama sekali, tapi mengesankan. Terlalu berkesan untuk dia lupakan. Memalukan.

Dia bercerita dengan penuh semangat menggebu-gebu. Aku tidak mengerti lagi. Memang ada orang sebangga itu menceritakan kemaluannya? Eh, maksudku peristiwa yang memalukan.

Baca selebihnya »

Iklan

괜찮아요

“Apa kata favoritmu?” tanyanya padaku setelah dia meminum 1/6 atau mungkin 1/5 es jeruknya, entahlah, aku sendiri tidak yakin. Aku tidak menghitungnya secara pasti.

“Favorit? Kalau kamu apa memangnya?” tanyaku balik, bukannya menjawab.

“Hmm. Kulacino. Kamu tidak punya?” tanyanya lagi. Aku tidak begitu tahu apa memang jawabanku begitu penting. Mungkin daripada bergibah lebih baik membicarakan hal seperti ini.

Baca selebihnya »

Pipi Yesung

Ini tentang pipi Yesung. Ini benar-benar pipi Yesung, bukan pipi-mimian, tapi memang benar-benar pipi. Pipinya itu menggemaskan dan aku ingin mencubitnya, tapi tentu saja tidak mungkin.

“Hari ini, aku paling suka pipimu,” katanya pada Yesung. Yesung tersenyum lebar, mungkin dia bangga, dia memang suka besar kepala. Tapi, setelah menyadari sesuatu, dia berhenti tersenyum.

“Hanya pipiku?” tanyanya cemberut sambil mempoutkan bibirnya.

Baca selebihnya »